Jumat, 19 Desember 2014

Untaian Kata dari Hati


       Tak terasa saat ini kita tengah berada di penghujung tahun 2014. Begitu banyak kejadian dalam hidup yang terekam dan menjadi kenangan selama setahun ini. Baik itu kenangan manis maupun kenangan pahit tentunya telah menorehkan begitu banyak cerita. Beberapa rekam jejak kenangan hidupku tertuang dalam bentuk tulisan di blog pribadiku. 

       Kebetulan nih....om NhHer mengadakan lomba GA bertajuk "A Self Reflection: Lomba Tengok-tengok Blog Sendiri Berhadiah."  Saatnya nih menoleh ke belakang.  Aku yang tadinya sedang males mengelola blog ini merasa dijewer dengan adanya GA "A Self Reflection" ini. Mulanya aku tak mengerti maksud diadakannya GA ini. Lalu aku membaca postingan om NhHer. Ooh ternyata beliau mengajak kita-kita para blogger memilih postingan favorit yang pernah ditulis. Tentunya postingan itu memberikan kesan mendalam dan bernilai plus sehingga menjadi bahan refleksi diri dalam menekuni profesi sebagai blogger.

     Setelah aku membolak-balik beberapa tulisan sepanjang tahun 2014, ketemulah sebuah tulisan yang menurutku lahir dari lubuk hati paling dalam. Kenapa aku bilang seperti itu? Karena saat jemariku menyentuh keyboard pada laptopku ini ternyata kata demi kata mengalir dengan lancarnya. Terciptalah sebuah puisi yang kudedikasikan pada almarhum adikku "Ferry Ardiansyah". Beliau tak lagi bersama kami untuk selamanya. Almarhum meninggal karena sakit kanker nasofaring yang diidapnya selama hampir tiga tahun.

       Tulisanku itu bertajuk "Yang Pergi dan Tak Akan Pernah Kembali." Sumpah, seumur-umur aku paling tak bisa membuat puisi. Aku lebih suka menulis artikel, opini atau cerpen. Begitu duduk di depan laptop dan jemari menyentuh keyboard biasanya akan tercipta sebuah tulisan dengan cepat. Beda ketika aku mencoba menulis puisi. Berjam-jam duduk di depan laptop mungkin tak mampu aku menciptakan sebuah puisi. Kalaupun aku mampu menuliskan puisi menurutku hasilnya garing!

       Nah... kembali lagi pada tulisanku yang bertajuk "Yang Pergi dan Tak Akan Pernah Kembali."   Saat aku menuliskan puisi itu dalam kondisi sedang berduka dan dirundung kesedihan. Bukan hanya sedih ditinggal sang adik selamanya, tetapi karena teringat almarhum meninggalkan dua orang putra yang masih kecil-kecil, Aldy dan Akbar. Selama menekuni dunia tulis menulis baru kali inilah aku menelurkan tulisan yang betul-betul lahir dari lubuk hati paling dalam. Disamping itu, aku berhasil memotret momen yang sangat menyentuh hatiku, ketika keponakanku Aldy bersama mamanya menabur bunga di makam papanya. Kalau melihat foto itu dan membaca ulang tulisan itu tak terasa air mataku selalu mengalir.



       Tulisan tersebut aku buat bertepatan momennya ketika om NhHer mengadakan Lomba Blog "Cinta Monumental". Awalnya aku merasa yakin tulisan ini akan mendapat tempat di hati juri. Namun aku gagal meraih salah satu hadiahnya lantaran aku tak mematuhi persyaratannya. Salah satu syaratnya adalah harus menampilkan banner lomba tersebut pada sisi kanan sidebar blog kita. Nah...aku yang gaptek ini tidak bisa memasang banner pada sidebar blogku walaupun sudah kuutak-atik sedemikian rupa. Akhir dari lomba tersebut aku harus menelan kekecewaan karena tulisan yang kuharapkan mampu bersaing dengan kontestan lain ternyata gagal karena urusan teknis. Ini menjadi pembelajaran bagiku, kalau ingin menjadi salah satu pemenang lomba blog harus mematuhi syarat dan ketentuan lomba.

        Bagi sahabat blogger yang penasaran dan ingin membaca tulisan dimaksud bisa meng-klik link-nya di SINI.


Selasa, 02 Desember 2014

Kenangan Indah Bersama Mama



Aku menutup kitab Yassin yang baru saja kubaca usai shalat magrib tadi. Sudah hampir empat tahun terakhir aku selalu menyempatkan untuk mengirim fatihah dan membaca surat Yassin untuk mendiang mama. Itulah bentuk kecintaanku pada mendiang mama. Tak terasa waktu bergulir begitu cepat hingga tak kusadari mama tercinta telah meninggalkan kami hampir empat tahun lamanya. Rasanya belum sempat aku berbakti pada beliau untuk menunjukkan rasa sayang atas segala perhatiannya selama ini. Aku belum mampu memberikan yang terbaik pada mamaku hingga akhir hayat menjemputnya. Padahal.....sebetulnya aku bisa saja memberikan perhatian lebih sebagai baktiku padanya. Toh semua orangtua tak mengharapkan materi dari anaknya. Orangtua hanya menginginkan agar anak-anaknya kelak menjadi berguna bagi orang banyak dan membanggakan keluarga. Ahh...kenapa aku salah kaprah atas bentuk baktiku pada mama? Kenapa aku selalu mengukurnya dalam bentuk materi? Padahal mama tak pernah menuntut hal semacam itu atas kasih sayang dan limpahan kebahagiaan darinya untuk anak-anaknya. Sebuah penyesalan mendalam kurasakan...

Aku terlahir sebagai anak pertama dari lima bersaudara. Aku punya dua adik perempuan dan dua adik laki-laki. Papaku seorang guru pada sebuah SMA swasta di kotaku. Sedangkan mama hanyalah seorang ibu rumahtangga biasa. Kami hidup dalam balutan keluarga sederhana namun kami sangat bahagia. Aku dan adik-adik dapat benar-benar merasakan betapa papa dan mama begitu mencintai anak-anaknya. Sebagai contoh, papa mengajar dari pagi hingga sore hari. Terkadang waktu magrib menjelang papa baru tiba di rumah. Ya, papa mengajar di dua tempat, sekolah pagi dan sekolah sore pada sebuah SMA. Semua itu dilakukannya demi menghidupi keluarga.

Tugas ibuku lebih berat lagi, selain mengurus lima anaknya, beliau juga harus pandai-pandai mengatur urusan ekonomi keluarga. Sebagai tulang punggung keluarga papaku telah berbuat maksimal. Mencari rejeki dengan mengajar di dua tempat. Hanya pada jam istirahat siang beliau pulang sebentar ke rumah guna shalat dzuhur dan makan siang. Setelah itu papa berangkat lagi untuk mengajar pada sekolah sore. Ternyata mamaku adalah wanita yang hebat. Dengan gaji guru yang tak seberapa beliau bisa mengatur pundi-pundi sedemikian rupa agar kebutuhan keluarga tercukupi. Ya, pada jamannya dulu memang belum banyak wanita yang berkarir di luar rumah. Hanya beberapa gelintir wanita yang bekerja di luar rumah guna menunjang penghasilan suami memenuhi kebutuhan keluarga. Ah...rasanya mamaku tak kalah hebat koq! Dengan intuisinya dia bisa membuat kami hidup bahagia walaupun dengan cara sederhana.....

Aku masih ingat, bagaimana mama mengelola pekarangan rumah kami yang cukup luas. Mamaku cukup cerdik memanfaatkan pekarangan rumah guna ditanami sayuran dan buah-buahan. Ya....secara mewarisi darah petani dari kakek dan nenek, mamaku cukup akrab dengan urusan bercocok-tanam. Tetapi bercocok tanam skala kecil lho, di pekarangan rumah. Papaku tak kalah cerdiknya, beliau memelihara ayam, bebek juga memehara ikan di kolam belakang rumah. Klop sudah pasangan orangtuaku ini, mama suka berkebun sedangkan papaku memelihara unggas dan ikan. Kebun mini di halaman rumah kami ditanami sayuran seperti daun singkong, daun katuk, tomat, cabai, buah pare, timun, labu kuning. Pokoknya banyak deh jenis sayurannya. Ada juga tanaman pepaya, pisang, belimbing bahkan petai cina. Yang paling aku suka adalah saat aku membantu mama memanen hasil kebunnya. Aku paling suka memetik tomat karena buahnya bisa langsung kumakan. Kadang-kadang aku suka dimarahi mama lantaran merusak tanaman di kebunnya. Kenapa? Karena aku sering mencongkel tanah tempat ditanamnya ubi rambat. Ya, aku memang penasaran kala itu pengen tahu saja, apa sudah ada akarnya yang  sudah berubah menjadi umbi atau tidak? Haha...

Masih kuingat pula, bagaimana mama menjahitkan kimono sederhana untukku beserta adik-adikku. Hebatnya lagi, beliau membuat kimono sederhana dari bahan baju mama yang sudah tak lagi dipakainya. Dengan sigap mama membongkar baju usangnya, menggunting dan menjahitnya kembali menjadi kimono-kimono lucu bagi putri-putri kecilnya. Ah mama....selalu saja ada yang bisa diperbuatnya bagi kami anak-anaknya. Dengan modal mesin jahit pemberian papa, mama juga terampil sekali membuat baju seragam sekolah kami. Dulu itu kan jarang ada toko konveksi, kalaupun ada tentu harga baju seragam sekolah lumayan mahal. Demi mengirit anggaran, mama rela mencari bahannya di pasar dan menjahit baju seragam sekolah dengan mesin jahit kesayangannya. 

Sejak kami masih kecil-kecil, mama sudah menanamkan bagaimana caranya hidup hemat. Setiap anak dibelikan celengan tanah liat berbentuk ayam. Setiap awal bulan ketika papaku gajian, mama menyisihkan beberapa perak untuk dibagikan kepada anak-anaknya. Dan uang pemberian mama itu pun meluncur ke dalam celengan ayam milik kami masing-masing. Pada setiap akhir tahun ajaran sekolah, kami anak-anaknya berbarengan memecahkan celengan masing-masing. Tawa canda riang khas bocah mengiringi kami menghitung rupiah demi rupiah hasil menabung setahun dalam celengan ayam. Aha, dengan cara seperti itu mama tak perlu pusing lagi memikirkan keperluan sekolah pada tahun ajaran baru. Berbekal modal membuka celengan kami sudah bisa membeli sepatu dan tas sekolah. Ah....kala itu bahagia sekali rasanya bisa membeli keperluan sekolah dari hasil menabung.

Hari demi hari berlalu hingga tak terasa aku pun menamatkan SMA dan memasuki perguruan tinggi. Karena orangtuaku tak cukup kuat menyekolahkan ke universitas, akhirnya aku didaftarkan pada sebuah akademi berbasis ikatan dinas. Karena judulnya 'ikatan dinas' maka selama sekolah tiga tahun pada akademi itu kuliahku dibiayai atas biaya pemerintah. Menurut papa, kalau aku selesai kuliah di akademi itu aku bisa langsung bekerja dan menjadi pegawai negeri. Ya, aku kuliah di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri. Kalau sekarang masyarakat lebih mengenalnya dengan STPDN atau IPDN. Sebagaimana halnya sekolah ikatan dinas, peraturan disiplin yang harus diikuti sangat ketat. Misalnya, saat masa ospek, pagi-pagi setelah subuh kami sudah harus kumpul di lapangan guna menerima pembekalan. Dimulai dengan senam pagi, peraturan baris-berbaris, mendengarkan ceramah, hingga diplonco senior. Tapi diplonco masih dalam hal yang wajar guna menanamkan sikap disiplin lho!

Masih kuingat saat aku mengikuti ospek, pagi-pagi mama sudah lebih dulu bangun tidur. Beliau menyiapkan segelas susu hangat dan telur rebus setengah matang. Belum cukup hanya itu, mama menambahkan sesendok madu yang harus aku minum. Kata mama agar bisa menambah energi selama mengikuti ospek. Begitulah yang terjadi selama ospek itu, mama selalu menyiapkan sarapanku dan menghantarkanku di depan pintu kala aku berpamitan. Kucium tangannya dan mamapun membelai kepalaku. Saat itu, aku tak menyadari bahwa itulah salah satu bentuk kasih sayang dan cinta seorang ibu kepada anaknya. Dalam belalainnya, pastilah mamaku berdoa agar aku kelak menjadi orang berguna dan dapat membahagiakan serta membanggakan keluarga.

Doa mama terkabul.... Sejak menamatkan kuliah pada akademi tersebut  aku langsung diterima sebagai pegawai negeri. Sebuah profesi yang saat ini menjadi rebutan banyak orang. Alhamdulillah juga, karena aku tamatan sekolah APDN aku mendapat amanah menduduki jabatan sekelas Lurah. Sebuah jabatan yang tak semua orang bisa merasakannya. Disamping mengabdi pada negara juga aku bisa berbagi kepada orang banyak dalam bentuk pelayanan kepada masyarakat.

Brakkk...!!! Kitab Yassin yang berada dalam genggamanku terjatuh. Aku tersadar dari lamunan. Ternyata aku melamun cukup lama hingga aku bisa mengenang begitu banyak kasih dan cinta mendiang mamaku. Seketika aku merasakan kunang-kunang menari-nari pada pelupuk mata. Aku menangis. Foto mama yang tercetak dalam kitab Yassin itu mengingatkanku akan kenangan indah bersamanya. Maafkan aku mama yang tak mampu membalas begitu banyak jasamu. Padahal doamu telah menghantarkanku kini berada dalam jajaran pemerintahan negeri ini... Dulu kupikir, membahagiakan mama adalah dengan cara memanjakannya dengan begitu banyak materi. Ternyata cara pikirku itu keliru. Belum sempat aku memanjakan mama dengan caraku itu mama telah dipanggil Yang Kuasa dalam usia enampuluh tahun. Sakit jantung telah merenggutnya begitu cepat dari kami. Kini, untuk menutupi rasa bersalahku pada mama adalah bagaimana aku bisa mewujudkan keinginannya...agar aku bisa menjadi berguna bagi orang banyak. Ya....mungkin sebagai abdi negara aku harus lebih banyak melayani masyarakat dalam arti sesungguhnya. InsyaAllah Mama...apa yang kau harapkan padaku untuk menjadi abdi negara yang baik akan aku laksanakan, aku berjanji untukmu mama...


Tulisan ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan "Hati Ibu Seluas Samudera"




Jumat, 28 November 2014

Pengalaman Berkesan Terbang Bersama Garuda Indonesia


Siapa yang tak ingin dirinya punya kesempatan terbang bersama Garuda Indonesia? Pastinya semua orang mengimpikannya, iya kan? Begitu juga dengan diriku, secara orang awam yang jarang naik pesawat turut mengimpikannya juga. Maka ketika aku bisa mewujudkan impian itu, alhamdulillah sekali...  Cerita terwujudnya impianku itu bermula dari sini...

Gambar dipinjam dari www.garuda-indonesia.com
Empat tahun yang lalu...tepatnya tanggal 26 Februari 2010 aku mendapatkan kesempatan umroh ke tanah suci. Waktu itu aku umroh bersama teman-teman kantor. Tentu saja suami tercinta pun turut mendampingi ibadah umroh ke tanah suci. Yang membuat ibadahku tambah syahdu adalah ketika awal keberangkatan ke tanah suci kami menumpang pesawat Garuda Indonesia. Dengan armada pesawat boieng yang dilengkapi layanan prima membuat perjalanan ke tanah suci itu begitu nyaman. Tiada rasa takut menghantui karena kenyamanan layanan Garuda Indonesia selama dalam perjalanan itu membuatku dan suami merasa tenang. Jarak tempuh hingga 9 jam di udara seakan tak terasa, begitu tenang dan nyaman hingga pesawat berbadan besar itu mendarat dengan selamat di bandara Jeddah. Alhamdulillah...


Dok. pribadi: Sesaat setelah mendarat di bandara Jeddah

Selanjutnya, pengalaman terbang dengan Garuda Indonesia berikutnya baru saja kualami. Tepatnya pada tanggal 11 - 14 November 2014 yang lalu aku melakukan perjalanan ke Bali. Kunjungan ke Bali itu dalam rangka orientasi lapangan (OL) terkait dengan kegiatan Diklat Penataan Batas Wilayah. Lagi-lagi aku bersama teman-teman berkesempatan terbang bersama Garuda Indonesia. Keberangkatanku kali ini sama seperti saat umroh dulu, segala sesuatunya diuruss oleh travel yang menjadi mitra. Selasa tanggal 11 November 2014 kami berangkat menumpang pesawat Garuda Indonesia dari bandara SMB II menuju SOETTA. Tepat pukul 10.30 pesawat lepas landas dan transit di SOETTA. Setelah menunggu beberapa jam kami melanjutkan terbang bersama Garuda Indonesia menuju bandara NGURAH RAI di Bali. Ternyata pesawat yang membawa kami terbang ke Bali ini adalah pesawat berbadan besar. Hampir sama armadanya saat kami menumpang Garuda Indonesia ke tanah suci beberapa waktu yang lalu. Hmmm...sungguh pengalaman yang mengesankan bagiku bisa terbang dengan maskapai terbaik di negeri ini. Begitu juga saat pulang dari Bali kami lagi-lagi terbang bersama Garuda Indonesia. Selama dua jam perjalanan akhirnya rombongan kami pun tiba kembali di bandara SMB II Palembang.

Kenapa sih terbang bersama Garuda Indonesia begitu menyenangkan?

Ada banyak hal yang menjadikan terbang bersama Garuda Indonesia menjadi suatu pengalaman yang tak terlupakan. 

1. Maskapai penerbangan ini mempunyai konsep Garuda Indonesia Experience. Konsep layanan ini menyajikan aspek-aspek terbaik berupa kenyamanan kepada penumpang. Wajarlah bila penumpang merasa dimanjakan dengan keramahan awak kabin. Sejak peluncuran pertama konsep ini pada tahun 2009, ternyata mampu menghantarkan maskapai Garuda Indonesia berkibar baik di negeri sendiri maupun Internasional. Yang membuat maskapai ini terus eksis hingga kini adalah mengedepankan layanan keramahan khas Indonesia. Keramahan khas awak kabin yang tulus akan sangat terasa saat menyampaikan 'Salam Garuda Indonesia' kepada semua penumpang.

Gambar dipinjam dari www.garuda-indonesia.com
2. Tak hanya keramahan awak kabin, penumpang pun merasakan kenyamanan berada di kabin pesawat. Kursi penumpang yang nyaman siap menghantarkan kenyamanan saat terbang. Bila bosan penumpang dapat terhibur dengan layanan dari monitor touchscreen yang menyajikan informasi berupa bacaan maupun hiburan. Belum lagi sajian welcome drink membuat penumpang merasa tersanjung. Beberapa majalah disediakan untuk memanjakan penumpang yang hobi baca. Kebetulan nih...aku sangat menikmati bacaan dari majalah dan menemukan form isian kartu Garuda Miles Blue. Banyak sekali benefitnya bila kita memiliki kartu ini, salah satunya adalah fasilitas penambahan bagasi, akses ke eksekutif lounge, priority boarding dan benefit lainnya. Nah...hayo...siapa yang tak tergiur dengan manfaatnya dari kartu Baruda Miles Blue? Layanan kulinary juga menjadi andalan maskapai ini. Sajian menu santap siang pun tak kalah heboh memanjakan perut. Dengan menu yang bercita rasa lezat di lidah seakan menambah deretan poin plus-plus-plus terbang bersama Garuda Indonesia.

Foto dokumen pribadi
3. Yang tak kalah hebohnya nih...layanan penerbangan maskapai Garuda Indonesia jauh dari cerita tak sedap. Boarding yang cepat, jadwal penerbangan yang tepat waktu, dan tak pernah memaksakan penerbangan bila terjadi sesuata kendala pada pesawat. Seorang pembimbing OL di Bali bercerita bahwa dia menunggu hampir dua jam karena ada sesuatu kendala pada pesawat Garuda yang akan dinaikinya. Setelah yakin pesawat dalam kondisi baik barulah penumpang dipersilahkan untuk naik dan penerbangan pun dilanjutkan. Menurutnya, kelebihan menumpang pesawat Garuda Indonesia adalah tak pernah memaksakan untuk terbang dalam kondisi armada yang tak layak terbang. Begitu pun saat sudah di udara ternyata ada kerusakan, maskapai ini pun lebih memilih putar balik kembali ke pangkalan daripada memaksakan terbang. Itulah sekelumit cerita dari pembimbing OL kami yang sudah malang melintang terbang di udara. Menurutnya terbang dengan Garuda Indonesia seolah memberikan jaminan bagi kelayakan terbang dan keselamatan penumpang. Harga tiket yang lebih tinggi dari maskapai lain seolah tak ada artinya bila dibandingkan dengan kenyamanan yang diperoleh penumpang.

Nah...itulah sedikit ceritaku tentang kesan terbang bersama Garuda Indonesia Ohya, menurut informasi yang aku dapatkan, saat ini Garuda Indonesia menggelar promo tiket pesawat murah tujuan Balikpapan. Wah...ini peluang sangat baik, pikirku. Kapan lagi nih bisa menikmati perjalanan ke daratan Kalimantan dengan Garuda Balikpapan? Harapanku semoga aku ada kesempatan bisa kembali terbang menikmati layanan terbaik dari Maskapai Terbaik Indonesia.


Sumber:
1. www.garuda-indonesia.com/id/id/garuda-indonesia-experience/service-concept/index.page
2. www.portalbalikpapan.com/syarat-dan-ketentuan


Senin, 01 September 2014

Mendambakan Sekolah Impian


Mommylicious #Parentingbook

Sumber diambil dari SINI


Apa arti sekolah buatmu? Kalau pertanyaan itu ditujukan kepada diriku maka aku akan menjawab: "Sekolah buatku adalah tempat dilakukannya proses belajar mengajar terhadap anak didik." Sekolah juga merupakan tempat pembentukan karakter anak didik menjadi lebih bernilai."

Tujuan pendidikan menurut Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 3, menyebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta anak didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,        sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung  jaab."

Nah...bila kita telaah  amanat dari  Undang-undang tersebut, jelaslah bahwa potensi seorang anak didik harus dikemas sedemikian rupa dalam rangka menjadi manusia yang seutuhnya. Adalah tempat yang bernama sekolah menjadi wadah mengembangkan potensi anak didik dan membentuk karakter. Hingga diharapkan si anak akan menjadi anak yang berguna sesuai harapan orangtuanya.

Lalu, kemanakah peran orangtua dalam mengembangkan potensi dan membentuk karakter anak? Apakah peran orangtua menjadi dinomor-duakan setelah menitipkan anaknya di sekolah? Tentu tidak dong! Bagaimanapun peran orangtua tetap nomor satu sedangkan sekolah adalah tempat untuk menitipkan si anak agar menjadi lebih berilmu.

Minggu, 31 Agustus 2014

GA Ungkapan Bahasa Daerah

Setiap daerah masing-masing punya ungkapan khas.




Al-Quran Miracle the Reference Idamanku

Membaca Alquran adalah kegiatan yang sangat dianjurkan dalam agama Islam. Sebagai muslim tentunya akupun ingin mendapatkan pahala dengan membaca Alquran. Masalahnya nih tak semua orang pandai membaca Alquran dengan huruf Arab dan sesuai dengan tajwidnya.Contohnya aku sendiri, dengan segala keterbatasan aku membaca Alquran setiap hari. Biasanya selesai shalat subuh aku menyempatkan diri untuk membaca Alquran.

Membaca Alquran atau biasa disebut mengaji  banyak mendapatkan pahala bagi muslim yang melakukannya. Pahala membaca Alquran sangatlah istimewa. Rasulullah pernah bersabda; "Siapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah (Alquran), ia akan mendapatkan satu kebaikan yang nilainya sama dengan sepuluh kali ganjaran (pahala). Aku tidak mengatakan alif  lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf." (H.R. Tarmidzi)

Dalam membaca Alquran agar kita memahami   kandungan dan makna dari tiap ayat yang kita baca, perlu untuk mempelajari pula tajwid. Tajwid adalah tanda-tanda baca dalam huruf Alquran.  Kegunaan tajwid sebagai alat untuk mengetahui panjang pendek lafadz dan hukum dalam membaca Alquran.

Nah....membaca Alquran pun ada caranya ya agar pahala yang kita dapatkan itu sempurna. Yaitu kita harus melafadzkan bacaannya sesuai dengan tajwid. Masalahnya nih kita kadang tak paham dengan tajwid secara tepat. Pengalamanku agar aku bisa mengaji dengan baik dan sesuai tajwid maka aku membaca Alquran yang menggunakan blok warna tajwid. Alhamdulillah sejak menggunakan Alquran dengan blok warna tajwid sedikit demi sedikit aku bisa menyempurnakan bacaan Alquran.

Seiring dengan banyaknya penerbitan yang memproduksi Alquran, kini kita tak kesulitan lagi memilih Alquran jenis apa yang sesuai kebutuhan. Tak hanya Alquran versi kitab namun kini ada pula Alquran digital. Bahkan saat ini diproduksi pula Syaamil Tabz dan Syaamil Note oleh penerbit Syaamil Quran di Bandung. Semua ini adalah jawaban atas kebutuhan umat muslim untuk memenuhi kebutuhan rohani dalam menjalankan ibadahnya.

Berbicara mengenai Alquran idaman, aku ingin sekali memiliki Syaamil Al-Quran "New Miracle the Reference 66 in 1". Aku pernah melihat Alquran itu saat mengunjungi sebuah toko buku terkenal di kotaku. Setelah aku tanya-tanya kepada pramuniaga ternyata Alquran memiliki banyak keistimewaan. Karena inilah paket Alquran terlengkap yang memberi panduan praktis beribadah. Terdapat 66 konten dalam satu paket Alquran serta mengandung 22 konten Miracle the Reference yang sebelumnya belum pernah ada.

Adapun manfaat yang diperoleh dari Alquran Miracle the Reference ini  adalah:
1. Dapat memandu kita untuk membaca Alquran secara benar.
2. Terdapat referensi yang sahih dan komplit sebagai sarana mempelajari dan mengetahui isi kandungan Alquran.
3. Materinya disusun secara sistematis dan terstruktur sehingga kita mudah memahi kandungan Alquran.
4. Dalam satu paket New Miracle the Reference terdapat 66 in 1 konten materi  yang dikemas dalam format buku, DVD dan CD audiobook.
5. Seluruh konten cetak dalam paket ini bisa dibaca dengan  e-pen sehingga kita bisa membaca Alquran sesuai dengan tajwid yang benar.

Nah...itulah Alquran idamanku yang pengen sekali segera kumiliki. InsyaAllah bila memungkinkan dananya dan ada rejeki Alquran Miracle the Reference idamanku ini akan segera terwujud memilikinya.



Inilah Syaamil Quran Idamanku

bersama IKAPI Jabar dan Syaamil Quran 
Hari ke-7 tanggal 31 Agustus 2014

http://www.syaamilquran.com/lomba-blog-pameranbukubdg2014-bersama-ikapi-jabar-dan-syaamil-quran.html 


Sabtu, 30 Agustus 2014

Menelisik Permasalahan Krusial Seputar Dunia Penerbitan

Saat mengunjungi sebuah toko buku tentu saja tujuan kita ke sana adalah belanja buku. Ya, tepat sekali! Begitu juga yang terjadi dengan diriku, mengunjungi toko buku seolah agenda wajib setiap minggu. Biasanya sih pada hari Sabtu atau Minggu dimana aku punya waktu luang. Pernah juga sih menyempatkan diri saat pulang kerja. Kebetulan ada toko buku terkenal yang aku lewati saat perjalanan menuju rumah. Entahlah, bagiku toko buku adalah surga, tempat dimana aku merasa bahagia. Kalau melihat buku-buku yang dipajang di rak-rak toko buku itu rasanya pengen deh aku borong buku. Apalagi hampir setiap minggu ada saja buku baru terbit. Kalau tak memikirkan isi kantong akan ludes sekejap tentulah buku-buku yang menarik perhatianku aku beli tuh!.

Lalu, buku seperti apa sih yang menjadi pertimbanganku saat belanja buku? Yang pertama kali jadi pertimbanganku adalah ketika aku sangat tertarik pada sebuah buku yang menjadi perhatian khalayak. Pastinya buku-buku semacam itu menjadi best seller. Beberapa novel terkenal seperti "Ibuk" karya  Iwan Setiawan dan "9 Summer 10 Autumn" karya yang juga karya Iwan Setiawan dan "99 Cahaya di Langit Eropa" karya Hanum  adalah contoh-contoh buku yang menarik minatku. 

Buku lainnya yang menarik minatku adalah buku-buku seputra panduan menulis. Ada banyak buku sejenis itu yang menghiasi rak buku di rumahku. Seperti buku "Menulis itu Ganpang" karya Indari Mastuti. dan "Mengarang itu Gampang" Aerwendo Atmowiloto. Maklumlah, sejak dulu aku bercita-cita jadi penulis tentunya harus banyak buku panduan sebagai referensi menulis. Sayangnya hanya beberapa gelintir tulisan yang dimuat media, sisanya draft tulisan masih tersimpan rapi dalam map-map ajaibku.

Kecintaanku terhadap buku dan hobi membaca sudah kualami sejak aku kelas satu SD. Kala itu belum banyak buku cerita anak terbit. Hanya beberapa gelintir  buku cerita anak seperti dongeng klasik terjemahan luar negeri. Kalau cerita-cerita silat versi asli Indonesia aku kurang suka membacanya.  Untuk mengatasi bahan bacaan yang terbatas orangtuaku berinisiatif   langganan majalah Bobo. Sejak itu hingga saat ini aku adalah pecinta dan pembaca setia majalah Bobo. Kadangkala aku mesti rebutan baca majalah Bobo milik keponakanku, hehe... Bersyukurlah kini banyak sekali penerbitan tumbuh subur layaknya jamur dimusim penghujan. Semuanya ini menjadi solusi atas kelangkaan buku dan bahan bacaan. Kini beragam buku bisa kita jumpai di toko buku.

Kalau berbicara tentang permasalahan krusial seputar dunia penerbitan saat ini, menurutku hal yang paling mendasar adalah harga buku yang relatif mahal. dan masalah pembajakan buku. Seperti yang kita ketahui, untuk buku standar harganya berkisar paling rendah empatpuluh ribuan. Ongkos produksi yang mahal membuat harga buku yang diproduksipun mahal. Bahkan bisa lebih mahal bila kertas dan kulitnya dari bahan yang berkualitas. Belum lagi masalah pendistribusian yang berjenjang hingga menyebabkan ongkos distribusinyapun menjadi mahal.

Disisi lain masih banyak terdapat buku-buku yang beredar itu adalah hasil pembajakan. Ini dikarenakan harga buku yang relatif mahal sehingga ada oknum-oknum yang nakal memanfaatkan peluang ini mengeruk keuntungan. Disisi lain baik penulis maupun penerbit legal merasa dirugakan karena ulah oknum pembajak buku. Sebut saja buku KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) yang ada versi bajakan. Kalau buku asli dihargai hampir empatratus ribuan. Tetapi versi bajakan bisa lebih murah. Kenapa buku bajakan harganya bisa lebih murah? Jawabannya karena buku itu dibuat dengan kertas yang tidak standar, tinta tidak standar dan tidak ada jalur distribusinya. 

Nah...itulah permasalahan krusial seputar buku dan penerbitan. Adalah peran nyata IKAPI sebagai wadah tempat bernaung para penerbit untuk mencari solusi permasalahan ini. IKAPI sebagai organisasi profesi bisa saja bekerja sama dengan pemerintah untuk mencari jalan keluar terhadap masalah krusial seputar dunia penerbitan.